“SAAT JALAN YANG DILAUI, TAK SESUAI DENGAN TUJUANNYA”

Apa jadinya kalau ternyata jalan hidup yang dipilih bukan sebagai jembatan antara hari ini dan besok? Mengerikankah? Atau biasa saja?

Keputusan sadar, tanpa paksaan tapi tidak direnungkan dengan baik. Kesalahan di awal yang bisa menjalar pada keputusan-keputusan penting di hadapannya kelak.

Jujur ini sama sekali bukan masalah cinta, tapi ini masalah yang lebih luas dan kompleks dari itu. Dengan apa yang telah dulu diidamkan, malah sekarang tidak mungkin diwujudkan. Dengan berbagai keterbatasan; waktu, latar belakang pendidikan, tenaga, pikiran, uang dan lainnya, impian itu terpaksa terkubur begitu saja. Hanya karena, tidak mempertimbangkannya sejak awal dengan baik. Padahal, keputusan itu penting karena sekali seumur hidup.

Marah, sedih, takut, bingung. Hanya itu. Hanya mereka, yang dirasakan.

Ketika melihat sosok penyelamat nyawa manusia. Dengan jas putih yang dikenakannya. Stetoskop di dekatnya. Wibawa yang melekat padanya. Senyum hangat di bibirnya, sebagaimana perannya sebagai penyelamat, penolong sesama hidup.

Sakit sekali rasanya. Mungkin hingga saat ini, rasa inilah yang paling menyakitkan dari yang pernah ada.

Walaupun begitu, yakinlah. Ini takdir terbaik, yang Allah berikan. Allah sudah menyiapkan hal lain, di balik semua yang dirasa sebagai kekecewaan ini. Hal yang jauh lebih indah, mungkin jauh lebih bermanfaat kelak. Allah sangat tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Allah sangat menyayangi kita. Sesakit apa pun hati ini, Allah selalu ada untuk kita.

Lalu bagaimana jika Allah tak ada untuk kita?

Karena, patah hati terdahsyat adalah ketika Allah sudah tak ada di hati hamba-Nya.

 

Advertisements