Suatu hari, saya dapet hadiah dari salah satu temen liqonya ummi. Hadiahnya buku, buku yang menceritakan all about Japan. Judulnya Gaikokujin no nooto, kalau gak salah sih artinya catatan sang orang asing.

Tadinya sekedar iseng ngisi waktu, saya coba baca buku itu, soalnya waktu itu saya lagi sakit, makanya gak masuk sekolah. Jujur, udah lama banget gak baca buku. Alesan sok sibuk lah, capek, males, dll. Makanya pas baca buku lagi memang agak beda sih, kadang gak konsen, ngantuk, dan kendala syalala lainnya.

Tapi, godaan itu sirna saat saya baca salah satu bab disana, saya lupa bab apa dan saya gak bisa liat di bukunya karena bukunya dalam peminjaman. Hhehe 😀 Intinya di bab itu si penulis menceritakan tentang bagaimana anaknya diarahkan saat hendak membuat karya. Katanya, semua karya anak-anak di Jepang pada awalnya sama, betul-betul sama persis. Sebagai contoh nih, sensei-nya bilang untuk bikin gambar pegawai yang sedang mengangkat sampah, anak-anak akan diarahkan untuk menggambar hal yang sama, dari mulai baju pegawai, jalan, mobil, sampe warna-warnanya sama. Pokoknya, menurut si penulis buku itu, gambar-gambar anak itu bakalan kaya foto-copy-an.

Hal pertama yang ada di benak saya saat baca tulisan itu, saya langsung menggerutu, “Apaan sama semua mah, nanti anaknya gak kreatif.”. Mungkin teman-teman juga akan berpikiran sama dengan saya, karena kalau iya semua anak gambarnya sama, anak-anak itu pasti gak akan bisa eksplor kemampuan dia. Apalagi kalau mengingat potensi orang-orang Jepang saat ini, masa iya sih pendidikannya pakai metode kaya begitu.

Nah, ternyata nih. Saya belum beres baca bab itu. Haha. 😀 Penulis melanjutkan, bahwa maksud dari sistem menyamakan karya-karya anak tersebut, awalnya bertujuan untuk meninjau, menilai, mengukur, dan memastikan bahwa semua anak memiliki potensi awal yang sama. Jadi start-nya barengan, plus sudah punya dasar yang sama semua itu lho. Jadi, seandainya si anak memang kepingin mengeksplor lebih dalam, dia sudah punya modal. Jadi kalau kata kitanya sih, gak bakalan ngelantur kemana-mana. Prinsipnya disamakan terlebih dulu, baru eksplor sendiri.

Hebat? Sangat. Itu bab paling mengejutkan, karena saya baru pertama kali baca tentang hal seperti itu di Jepang. Boleh tuh, guru-guru di tanah air mempraktekkan apa yang saya ceritakan tadi. Walaupun terdengar aneh, tapi menarik kok.

Jepang akan selalu punya hal-hal menarik untuk ditelusuri. Negara yang, setiap penggalan cerita yang datang darinya, kerap kali membuat saya tercengang, kagum, atau bahkan tertawa terpingkal-pingkal. Saya akan jadikan Jepang sebagai salah satu destinasi saya, apapun itu tujuannya. Wisata, studi, dan sebagainya.

~Wafa Nur Izzah

 

Advertisements