29 Oktober 2016

Kini, fotografi tentu saja bukan hal asing di hampir tiap telinga orang. Keindahan yang dihasilkan, makna yang diciptakan, seolah menjadi hal yang boleh dikata menarik dari fotografi.

Fotografi, juga salah satu mata pelajaran produktif di sekolah saya. Dengan begitu, saya cukup harus mempelajarinya lebih dalam, dalam rangka mencapai nilai di atas KKM. Hahaha

Tapi itu anggapan saya dulu. Berkat mempelajari seluk-beluk fotografi lebih dalam, justru saya malah menemukan hal baru yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Atau sederhananya, hal menarik baru yang menjadikan jiwa ini mencintai fotografi.

Salah satunya, fotografi banyak menyadarkan saya tentang seberapa penting sudut pandang. Keindahan yang dihasilkan sebuah foto bisa saja tergantung dari sudut pandangnya. Bisa dari atas, samping kanan, samping kiri, bawah, atau arah lainnya. Dan, sebagai fotografer yang baik, tentu harus mencoba dari sekian banyak sudut pandang tersebut, hingga akhirnya menyimpulkan, manakah sudut terbaik sehingga dapat menciptakan foto dengan keindahan maksimum.

Dari sana saya belajar bahwa begitu pula hidup. Lihatlah segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Katakan mengerjakan matematika bukan hal yang sulit bagi saya. Namun belum tentu bagi orang lain. Bisa jadi anggapannya itu lebih mudah, atau lebih sulit. Anggap bahwa menggambar adalah hal yang saya tidak suka, tapi belum tentu dengan yang lain. Bilang saja bahwa anak itu nakal, tapi kita tidak pernah tahu apa isi hatinya. Apa yang dipikirkannya, sehingga ia nampak menonjol dengan kenakalannya dibandingkan teman-temannya.

 

Posisikan diri kita menjadi orang lain, lalu pikirkan apa yang kira-kira kita rasakan saat jadi orang lain itu. Mungkinkah sama? Atau ada hal yang beda? Saya rasa akan berbeda.

 

Karena menurut saya, dengan melihat segala sesuatu dari segala arah adalah cara bagi saya untuk lebih belajar memaknai hidup. Lebih menghargai apa yang telah susah payah orang lain kerjakan, lebih mencoba mengerti tentang situasi yang kadang membuat saya jengkel, lebih merasakan apa yang dirasakan orang lain.

 

Begitulah seharusnya hidup. Saling memaknai, menghargai, mengerti. Belajar berkata, “Bagaimana kalau saya jadi dia?”, “Bagaimana kalau saya yang begitu?”, dan ungkapan sejenis lainnya. Sehingga kita dapat menyikapi segala sesuatu dengan lebih bijaksana.

 

“Begitulah hidup ini. Peka tentang hikmah-hikmah yang Allah tebarkan di muka bumi. Berawal dari fotografi, berlanjut dengan memaknai, menghargai, lalu mengerti.”

Advertisements