30 Oktober 2016

Anak itu begitu idealis. Semuanya harus terlihat sempurna dalam hidupnya. Tidak boleh cacat, tidak boleh buruk, sekecil apapun.

Anak itu sangat ambisius. Semua harus menang. Semua harus menjadi juara. Tidak boleh kalah, tidak boleh.

Semuanya harus dia yang berkuasa, dia yang terbaik, sempurna, tanpa cacat.

Ia terus saja menjalani hidupnya dengan prinsip-prinsip itu. Ia akui lelah dengan semuanya, tapi karena ia punya mimpi yang besar, katanya tak apa lah bersusah payah sedikit.

Namun lama kelamaan, hanya jenuh dan lelah. Tak ia temukan lagi semangat membara. Mungkin karena sudah di titik puncak lelah. Tapi terus ia paksakan, hingga akhirnya…

Anak itu malah tidak punya semangat apa-apa. Bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Kali ini tak hanya tak ada semangat membara, melainkan benar-benar putus asa dengan impiannya. Pemicunya adalah ia tak yakin dengan saingannya, ia tak yakin dengan kemampuannya, dan ia lupa bahwa Allah adalah segalanya. Kun Fayakun.

Sampai suatu hari, ia pergi ke suatu tempat untuk mengikuti serangkaian acara seminar dengan tema “Meningkatkan Kepekaan Diri”. Anak itu bertemu dengan teman-temannya, ia bahagia sekali saat itu. Sebab, ia bisa melepas kepenatannya dan tertawa bahagia bersama teman-teman, yang ternyata sudah lama tidak ia temui.

Seminar itu berlangsung 2 hari di akhir pekan. Hari pertama pun selesai. Dan tibalah di hari kedua. Ia cukup berbahagia, sebab ia akan bercengkrama bersama lagi dengan teman-temannya itu.

Namun, ia juga berpikir sesuatu. Mengapa dia bisa sebahagia itu?

Setelah direnungkan, ternyata kuncinya adalah bahagia. Saat bersama teman-temannya, ia melepas semua beban di pundaknya. Lalu bercengkrama, bertukar pikiran, yang tak jarang juga menimbulkan tawa yang membahagiakan.

Ia sadar bahwa selama ini, mengapa ia bisa sampai putus asa adalah karena ia jarang melibatkan bahagia di dalam hatinya. Hanya ada idealis, ambisius, perfeksionis, sampai-sampai lupa dengan ungkapan, “Jangan lupa bahagia.”. Sebetulnya bukan lupa, melainkan ia tak merasa bahagia itu penting saat itu. Tapi ternyata buktinya, bahagia bagai bahan bakar yang akan selalu menghasilkan energi untuk menghadapi apapun di dunia ini. Tentunya tak terlepas dari campur tangan Allah, yang selalu memberikan rahman dan rahimnya. Kesimpulannya, hikmah pertama adalah “Jangan lupa bahagia”.

Selain renungannya itu, coach di seminar itu juga menuturkan sesuatu yang anak itu sadari sebagai hikmah yang kedua. Bahwasanya, manusia seyogyanya tidak perlu menjadi terlalu ideal berlebihan karena kesempurnaan adalah milih Allah SWT semata.

Semakin tersadarkanlah anak itu, tentang kelirunya jalan hidup yang mengirinya selama ini. Ia sadar, dengan ia terlalu menjadi idealis juga malah membuatnya capek. Dan ia juga sadar bahwa, ia harus tetap bahagia supaya menjaga energi di dalam dirinya.

Tidak berhenti disana. Ternyata ungkapan bahwa hikmah bertebaran dimana-mana adalah benar. Anak ini semakin tersadarkan dengan salah satu bab awal dari buku yang ia pernah baca, tentang cerita seorang dosen yang bertanya pada murid-muridnya.

Dosen itu bertanya sambil menjulurkan tangannya ke depan yang memegang segelas air, “Apakah menurut Anda ini berat?”. Kebanyakan muridnya menjawab tidak. Lalu si dosen melanjutkan, “Bagaimana jika saya terus dengan posisi seperti ini seharian penuh?”. Salah satu muridnya menjawab, “Kau akan merasakan pegal pak. Mungkin saja karena rasa pegal itu, bobot satu gelas air yang seharusnya ringan menjadi berat.”. Dosen menanggapi, “Tepat sekali. Coba Anda semua bayangkan, apa jadinya kalau Anda terus-menerus memikul beban hidup tanpa adanya isirahat?” dosen itu diam sejenak lalu melanjutkan, “Seperti apa yang tadi kawan Anda ungkapkan, bahwa beban yang seharusnya tidak berat menjadi berat. Yang seharusnya tidak perlu terlalu lelah, malah menjadi sangat lelah. Akan berbeda ceritanya jika Anda meletakkan beban itu di tengah perjalanan Anda, sembari berisitirahat sejenak. Tentu ceritanya akan mengarah pada dampak bahwa Anda bisa melanjutkan perjuangan hidup dengan lebih mudah, karena bebannya akan terasa lebih ringan.”

Begitulah penggalan cerita yang dibaca anak itu. Sederhana, tapi menyentuh. Itu yang dirasakannya. Yang ia pahami dari cerita itu adalah, dia manusia. Dan manusiawi kalau dia lelah dan ingin beristirahat. Oleh karena itu, dia perlu me time. Perlu waktu dimana hanya melakukan apapun yang dia inginkan. Sehingga disimpulkan hikmah ketiga adalah “Manusia butuh istirahat dan me time“.

Anak itu kini membangun ulang semangat dan tekadnya. Dengan prinsip baru di dalam hidupnya, “Jangan lupa bahagia”, “Tidak idealis berlebihan, tapi tetap punya tujuan dan tekad”, dan “Manusia butuh istirahat dan me time.”

Dan nyatanya, perenugan hikmah-hikmah yang mungkin sebenarnya masih banyak bertebaran di luar sana namun tak berhasil ia tangkap, membawanya menjadi manusia yang menjalani hidupnya lebih baik dari sebelumnya.

DAN ANAK ITU ADALAH SAYA 😀 😛

edit1.jpg

“The most important thing in my life is always be happy. Like what you do, do what you like.”

Advertisements