) النظافة من الإيمانAnnadhoo fatu minal iiman)

Hadits di atas, pasti sudah tidak asing terdengar di telinga teman-teman, kan? Hadits itu juga pernah jadi salah satu materi yang dibahas di mata pelajaran PAI waktu saya kelas 3 SMP lho! 😊

Tapi kalau ada yang lupa-lupa sebetulnya hadits di atas itu tentang apa, boleh disimak tulisan saya sampe tamat, karena saya mau coba sharing pengalaman, sambil coba menghubungkan dengan hadits tadi ya! Tapi sebetulnya lebih tepat kepada sharing pemikiran, sih. Hehe 😅

Beberapa waktu lalu, saya sempat su’udzhan alias berburuk sangka terhadap beberapa umat islam. Saya sempat berpikir pada waktu itu, bahwa umat islam di Indonesia terutama, saat ini sudah tidak peduli dengan apa yang dinamakan kebersihan, kerapihan, keindahan. Padahal sudah jelas dikatakan pada salah satu hadits, bahwa memang kebersihan adalah sebagian dari iman. 

Lihat kalimat yang saya tebalkan, kan? Nah, itu kurang lebih arti hadits yang saya kutip di paragraf awal 😄

Lanjut..

Saya sering sekali lihat, ada orang pake jilbab, tapi masih buang sampah tidak pada temannya sampah, yaitu tempat sampah. Atau, jelas-jelas ada sampah di depan matanya, nggak dia buang, cuma diliat doang. Kan miris.

Jujur berkali-kali saya terlanjur kesal sampai menggerutu berlebihan. Seakan semua orang memang begitu, padahal tidak.

Sampai suatu hari, ada satu kasus yang sangat menggemparkan umat islam. Yang, rasanya tidak terlalu berlebihan jika saya atau bahkan kami, umat islam menyebutnya kasus penistaan agama. Sebab kami sangat tersinggung, dengan ucapan salah satu petinggi negara yang mengkorelasikan pendapatnya dengan salah satu ayat di kitab suci kami, yang tentu ia sebagai nasrani tidak tahu apa-apa tentang kitab kami itu.

Tapi, sebenarnya pada awalnya saya kira kasus tersebut tidak akan sampai sebesar ini, karena saya kira umat islam masih tertidur dan tidak sadar tentang kasus di atas. Tapi ternyata saya salah, salah besar! Umat islam tak lagi tidur, dan sangat sadar tentang ucapan pejabat yang bersangkutan sangat menyakiti hati umat islam.

Betul saja saat murabbi saya menyampaikan suatu petikan kata-kata yaitu, “Umat islam seperti singa yang tertidur”.

Ya, memang seperti singa tertidur. Saat ia terbangun, tak akan ada yang bisa mengalahkannya. Tentu dengan perlindungan dan kekuatan dari sang Maha Allah subhanahu wa ta’ala.

Aksi damai besar-besaran pun dilaksanakan hingga 3 kali. Yang makin sini, jumlah pesertanya semakin banyak. Saya kagum, sangat kagum. Akhlak seorang muslim muslimah diperlihatkan dengan jelas dan bangga. Tertib, rapi, patuh aturan, menolong sesama, dan yang paling penting adalah bersih.2016-12-06-37

Dan dari sini, saya banyak belajar dan tahu bahwa ternyata umat islam masih banyak yang punya jiwa kebersihan tinggi. Mungkin, orang-orang yang saya temui di jalan, yang saya kisahkan di awal hanya segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal, masih lebih banyak yang tertib dalam masalah kebersihan. Buktinya, dari rentetan ketiga aksi damai islam, tak satu aksi pun yang membuat tempat menjadi kotor. Monas, HI, taman-taman, tetap terjaga dengan baik. Bahkan ada pihak-pihak tertentu yang bersedia untuk menjadi relawan, untuk membersihkan lokasi, agar nampak seperti semula.

monas-bersih

Dengan begitu, saya semakin bangga menjadi seorang muslim. Semakin ingin memberitakan pada dunia, bahwa inilah muslim yang sebenarnya. Bukan seperti apa yang diberitakan media-media sekuler, yang hanya ingin menjerumuskan islam yang rahmatan lil ‘aalamiin.

 Note : Foto diambil dari berbagai sumber

“Akan saya umumkan pada dunia bahwa saya mencintai agama ini, agama Islam. Saya Wafa Nur Izzah, seorang muslimah. Dan saya bangga.”

Advertisements