30 Desember 2016

Kita sekarang sedang ada di penghujung tahun 2016. Tahun penuh warna, cerita, kisah, dan drama-drama. Teman-teman bebas menafsirkannya, entah itu penuh drama kehidupan, atau penuh drama korea. Haha 😀

Dan di akhir tahun, bagi pelajar seperti saya adalah waktu libur yang cukup panjang (kata orang sih gitu, padahal sebenernya cuma 2 pekan), tentu akan ada banyak waktu luang, yang jujur awal-awal seneng karena masih banyak duit dan lama-lama terkadang malah gaje sendiri karena duit terus menghilang dari hari ke hari begitu cepatnya, dan ujung-ujungnya cuma mendekam di kamar mirip beruang berhibernasi. 😀

Tapi, tenang. Saya sedia payung sebelum hujan. Sedia film dan drama sebelum bokek. Haha 😀 Lagian, kalau travelling terus kan menguras tenaga, ya. Ada baiknya juga sih, jadi bisa lebih banyak istirahat untuk memulihkan stamina di tanggal 9 nanti. 😉 Tanggal saat semua bocah sekolah kaya saya masuk lagi, hehe..

Dan setelah beberapa judul drama dan film yang sudah ludes ditonton, tidak sengaja mata saya tertuju pada salah satu folder, dengan nama “Train To Busan”. Bisa dipastikan isi filmnya, berjudul Train To Busan. Bagi teman-teman yang mengikuti perkembangan industri hiburan Korea, pasti tahu lah ya. Terkenal kok, sampe-sampe pernah mejeng di bioskop tanah air, lho!

Train To Busan itu sebetulnya udah lama banget mejeng di laptop tercinta ini, tapi karena film di laptop terlalu bejibun, akhirnya terlupakan dan berhasil tertonton hari ini(29/11/2016). And you know? The movie is DAEBAK! Oleh karena itu, saya putuskan untuk mengoceh di blog tentang film ini. 🙂

Saya tidak pandai buat review film, karena bagi saya, terlalu sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan atau memaparkan kembali apa yang saya dapat dari film tersebut. Terutama, untuk film-film yang sangat hebat dan berhasil membuat saya, teman saya, pembaca blog saya (emang ada ya haha :-P), atau siapapun itu berdecak kagum, baik itu secara makna, cerita, atau bahkan pesan yang disampaikan.

Oleh karena itu, saya bukan mau review film Train To Busan. Tapi disini, di tulisan ini, lagi-lagi saya ingin menceritakan dan membagi apa yang saya dapat dari film ini.

Konflik yang paling menonjol di film ini, selain menghindari serangan dari gigitan-gigitan manusia yang terinfeksi hingga nampak seperti zombie, tapi juga masalah keegoisan. Saat kondisi genting yaitu harus menghindari orang terinfeksi, manakah yang kita dahulukan, diri sendiri atau orang lain. Masalah jalan ceritanya kaya gimana, temen-temen tonton sendiri aja, ya! Hehe 😀

Banyak adegan dimana kejadian yang tidak menyenangkan terjadi akibat keegoisan masing-masing. Niatnya biar selamat sendirian, yang terjadi malah mencelakakan banyak orang. Di film ini, puncak konflik gara-gara keegoisan satu orang terjadi ketika ada tiga laki-laki (include main lead) berusaha menyelamatkan beberapa orang yang terjebak di antara zombie-zombie di kamar mandi salah satu gerbong. Saat sudah berhasil diselamatkan, dan hendak masuk ke gerbong yang paling aman, pintu gerbong itu malah dikunci dan diperlakukan sedemikian rupa (liat aja di filmnya, susah digambarkan) sehingga tidak bisa dibuka. Alasannya akibat provokasi salah satu penumpang yang bilang bahwa, “Apakah kalian yakin, orang-orang itu tidak terinfeksi sama sekali, padahal sudah melewati banyak gerbong dengan orang yang terinfeksi berjumlah sangat banyak?”

Tapi pada akhirnya gerbong itu berhasil dibuka dengan cara memaksa memecahkan kacanya. Sayangnya, ada dua yang tidak terselamatkan, yaitu nenek yang sebelumnya terjebak di kamar mandi salah satu gerbong, dan salah satu dari tiga laki-laki penyelamat tadi. Padahal laki-laki itu sangat mengagumkan dengan apa yang telah ia korbankan, jiwa yang sangat bijaksana, dengan mendahulukan rekannya, untuk menyelamatkan istrinya yang sedang mengandung kala itu. Sedih pokoknya.

Orang-orang yang dituduh terinfeksi pun masuk ke dalam gerbong paling steril dan aman. Dan jengkelnya, provokator itu masih terus mengatakan bahwa orang-orang yang baru masuk belum tentu tidak terinfeksi. Sehingga, keputusan akhirnya orang-orang yang baru datang tadi harus pindah ke gerbong yang ada di depannya. Karena tidak bisa apa-apa, mereka menuruti permintaan yang cenderung perintah itu.

Setelah orang-orang yang penuh perjuangan itu pindah ke gerbong di depannya, tidak disangka ternyata nenek yang tidak selamat tadi punya saudara di dalam gerbong yang aman. Saudaranya geram, karena akibat keegoisan provokator tadi, pintu ke gerbong aman sulit dibuka sehingga saudaranya terlambat untuk masuk dan mau tidak mau dimakan zombie-zombie yang menyerbu nenek itu. Dengan begitu, saudara nenek itu memutuskan untuk membuka pintu agar zombie dapat memakan semua orang yang ada gerbong yang tadinya paling aman. Sehingga dapat dikatakan bahwa, orang-orang yang tadi diusir adalah selamat.

Mari kita berandai, jika hanya jika, si provokator egois tidak ada, mungkin tidak akan ada nenek yang terlambat masuk gerbong, tidak akan terjadi perpisahan antara suami dengan istrinya, tidak akan ada acara usir-mengusir, tidak akan ada istilah geram dan akhirnya malah senjata makan tuan.

Get it? You must get something from this story, though it is fiction. Saya pribadi bener-bener nyesek nonton adegan itu, mungkin temen-temen belum merasakan karena –mohon maaf– visualiasinya belum terlalu baik dan tertata. Hehe 😀 Jadi, tontonlah!

Saya itu antara kesindir, malu, sama coba introspeksi. Karena di beberapa kesempatan, saya juga masih lebih banyak mengedepankan ego. Padahal jelas-jelas, dalam hukum islam bab Ukhuwah Islamiyah, ada yang namanya Itsar. Yaitu level tertinggi dalam pengaplikasiannya. Adalah, mendahulukan orang lain sebelum diri kita.

Seandainya saja pemain-pemain itu Train To Busan tahu kalau islam sampai sedetil ini, pasti mereka kagum dengan ajaran islam. Bahkan mungkin saja, tertarik mempelajarinya, dan tidak menutup kemungkinan menjadi seorang muslim. Yaa, apa salahnya kita mendoakan? Hehe 😀

Dan, semakin yakin saja bahwa Islam memang agama paling sempurna di muka bumi. Karena sejatinya aturan diciptakan untuk mengatur, bukan mengekang. Right?

Advertisements