Pernah gak sih, suatu hari teman-teman belanja sesuatu ke toko, lalu tidak dilayani dengan ramah? Atau bahkan sebaliknya, dilayani dengan sangat ramah penuh penghargaan seolah-olah kita itu berharga sekali bagi si penjual?

Saya yakin pasti pernah.

Lalu apa yang teman-teman rasakan? Which do you prefer? Mana yang lebih disukai?

Pasti yang ramah, kan?

Lalu mengapa ya, yang ramah menjadi pilihan teman-teman? 

Hm.. Kalau menurut analisa saya pribadi, tentu karena rasa penghargaan dari sang penjual terhadap pembeli yang sudah mau mengunjungi dan membeli apa yang penjual tawarkan, bukan? Akhirnya timbul rasa bahagia dari sang pembeli sebab merasa dihargai.

Bagaimana kalau sebaliknya? Apa yang membuat pembeli tidak suka dengan pelayanan yang buruk?

Sebetulnya segala sesuatu dalam hubungan sesama manusia adalah kembali pada perasaan. Sekalipun itu sekedar hubungan pembeli dengan pedangang.

Oleh karena itu, apa yang kita beri pada pembeli adalah apa yang akan mereka dapat. Tentu apabila penjual menawarkan buku, maka yang didapat pembeli adalah buku. Namun lebih dari itu, ketika penjual memberi senyuman maka pembeli mendapat senyuman. Begitu pula saat penjual tak mengapresiasi pembeli maka yang dirasakan pembeli adalah rasa kurang dihargai. Saat pelayanan buruk diberikan, maka perasaan tak suka kepada penjual yang akan didapatkan.

Hubungan manusia dengan manusia sejatinya bukan hanya urusan jasad satu dengan jasad lainnya. Tapi juga rasa satu manusia terhadap manusia lainnya.

Advertisements