Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Begitulah syair lagu berkata tentang artinya mimpi. Namun bagi saya, arti mimpi lebih dari sekedar itu. Sebab nyatanya, mimpi adalah stimulus supaya kita mampu bergerak dalam usaha memperjuangkan apa yang kita inginkan. Karena seringkali, ketika kita mulai lelah dan ingin menyerah, dengan mengingat rentetan mimpi-mimpi yang belum tercapai, dapat dengan ampuh membuat semangat kita tumbuh kembali. Seolah ada energi yang datang hingga menjadi alasan agar kita tetap melanjutkan perjalanan.

Karena itulah, saya senang bermimpi. Seolah tanpa ragu, mimpi-mimpi itu berjumlah banyak dan tidak sedikit yang berskala besar. Cenderung seperti sulit terealisasi, tapi saya tetap bersikeras memimpikannya. Sebab yang saya tahu, semua orang sukses memulai segala sesuatunya dari hal bernama ‘mimpi’.

Namun dari sekian banyak mimpi tersebut, semuanya berinduk kepada prinsip selalu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, negara, dan agama. Karena saya tahu betul, bahwa segala amal perbuatan akan bergantung kepada niatnya. Oleh sebab itu, sebelum berbuat saya harus memiliki niat yang baik, sehingga ke depannya apa pun hasilnya, saya akan yakin itu adalah yang terbaik.

Dalam jenjang karier, ada beberapa profesi yang ingin saya geluti. Bahkan dengan bidang yang sangat beragam. Dan tentu semuanya beralasan bahkan salah satunya menyangkut tentang masa dimana suatu saat –Insya Allah– saya akan menjadi seorang ibu, jadi tidak sekedar cap-cip-cup saja. Hehe..

Yang pertama, saya ingin menjadi seorang jurnalis. Atau lebih rincinya, menjadi seorang News Anchor. Mengapa? Tentu karena saya menyukai dunia jurnalistik. Tapi, di samping itu saya juga ingin menjadi seseorang yang mampu memberitakan sesuatu sesuai dengan faktanya. Tidak seperti apa yang banyak dilakukan media belakangan ini. Karena idealnya, berita diinformasikan secara objektif, bukan dengan subjektif.

Yang kedua, berprofesi sebagai penulis. Sebab seorang penulis, namanya tetap akan dikenang, karyanya tetap akan menginspirasi, walaupun raganya sudah tak lagi ada di dunia ini. Saya menginterpretasikannya sebagai investasi dunia dan akhirat.

Yang ketiga adalah berkarier sebagai pebisnis. Seperti yang kita tahu, karakteristik bisnis itu fleksibel. Bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Sehingga apabila saya pribadi meninjau keadaan dimana suatu saat nanti tidak memungkinkan untuk saya bekerja, bisnis dapat menjadi jalan keluar yang efektif. Sebab bisnis membuka peluang untuk berpenghasilan tanpa mengesampingkan prioritas utama menjadi seorang ibu.

Jika dalam hal karier target saya adalah menjadi jurnalis, penulis, dan pebisnis. Maka di luar karier, saya juga memiliki target lain, yang sebagiannya dapat menjadi pendukung pencapaian target karier saya. Ada yang dunya-oriented, ada pula yang akhirat-oriented.

Menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris, dengan prioritas menguasai bahasa Arab dan Korea terlebih dulu. Lalu menggunakan kemampuan berbahasa tersebut untuk berkeliling dunia, dalam rangka bekerja sebagai jurnalis atau bahkan mencari lembaran-lembaran hikmah, yang tersebar di berbagai negara sambil menuliskannya untuk dijadikan sebuah buku. Belum lagi kesempatan mengenal lebih banyak orang di dunia, sehingga dapat menjalin tali silaturahim, yang berdampak langsung pada terciptanya network yang lebih luas dalam usaha pengembangan bisnis. Selain itu, bisa bermain setidaknya satu alat musik, mempunyai skill memasak yang professional, mengembangkan kemampuan dalam penguasaan software multimedia, adalah bagian target-target non-karier yang bersifat dunya-oriented.

Tapi tentu orientasi dunia akan bernilai sia-sia apabila meninggalkan orientasi akhirat. Dengan begitu, impian seperti umroh bersama keluarga, menjadi Hafidzhah Al Qur’an, membuat perpustakaan di daerah-daerah terpencil, menjadi pribadi yang lebih baik terutama dari segi spiritual, akan berdampingan dengan impian-impian yang bersifat dunya­-oriented dalam rangka menciptakan kehidupan yang dapat bermanfaat bagi sesama, negara, dan agama.

Dan tentu untuk menggapai seabrek mimpi yang kita punya, itu tidak mudah. Ya, tidak ada yang mudah di dunia ini dalam hal mencapai kesuksesan, tidak ada yang instan. Bahkan mie instan pun perlu diseduh sebelum akhirnya dinikmati.

Lalu bagaimana caranya agar impian-impian yang seabrek itu menjadi kenyataan?

Ya! Tentu berusaha, bersabar, lalu berdoa. Hanya saja saat berusaha, kita tidak bisa asal beraksi tanpa rencana yang jelas. Because, if you fail to plan, you plan to fail. Namun, yang paling saya mengerti dalam mengeksekusi mimpi adalah dengan terus berlatih. Bahkan pepatah mengatakan ‘practice makes perfect’. Artinya, perlu bagi kita untuk meningkatkan jam terbang apabila ingin mahir dalam sesuatu. Gladwell juga menjelaskan konsep “10.000 hours practice”, yaitu dimana dalam menjadi seorang yang ahli di bidangnya, perlu waktu 10.000 jam untuk berlatih.

Kali ini tentang bersabar. Acap kali manusia merasa tidak sabar, baru saja satu kali gagal, rasanya sudah ingin menyerah dan menyudahinya begitu saja. Padahal kesuksesan pasti berdampingan dengan kegagalan, mereka malah sahabatan. Jadi kalau mau sukses, ya tidak bisa kabur dari yang namanya kegagalan. Salah satu penulis inspiratif Indonesia, Muhammad Assad menulis ini dalam bukunya ‘Breakthrough’, “Never see failure as an end of your life. It’s just a bad day, not a bad life. If you fail, get up and get a life!”

Terakhir adalah berdoa. Pasrahkan segalanya terhadap Sang Maha Kuasa. Pinta apa saja yang terbaik bagi hidup kita, terlepas itu sesuai ataupun tidak dengan keinginan kita. Karena bisa jadi apa yang kita inginkan bukanlah hal terbaik menurut-Nya. Sebab Allah paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

 

Catatan : Featured Image bersumber dari koleksi pribadi penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements